IQ tinggi seringkali menjadi patokan bahwa kesuksesan seseorang di masa depan akan terjamin. Hmm..i think it isn't 100% correct. Selain IQ (Intelligence Quotient) ada yg disebut EQ (Emotional Quotient). Yang termasuk IQ adalah kemampuan logika, analisis, knowledge. Sedangkan EQ adalah kemampuan bersosialisasi, mampu beradaptasi, berinovasi, menguasai diri.
Salovey & Mayer (1990) – pengembang konsep EQ, jauh sebelum Goleman – merangkumnya menjadi lima aspek berikut ini : a. kesadaran diri (self awareness), b. mengelola emosi (managing emotions), c. memotivasi diri sendiri (motivating oneself), d. empati (emphaty) dan e. menjaga relasi (handling relationship). Seperti halnya Peter dan Salovey, pada mulanya Daniel Goleman pun menyebut 5 dimensi guna mengembangkan kecerdasan emosi yaitu a. Penyadaran Diri, b. Mengelola Emosi, c. Motivasi Diri, d. Empati dan e. Ketrampilan Sosial. EQ dua kali lebih penting dari IQ.
Mau sukses di tempat kerja atau di lingkungan pergaulan???
Kita harus mampu mengembangkan kecerdasan emosi kita. Apabila teman kita berbuat salah, alangkah lebih baik apabila kita mampu mengendalikan diri untuk tidak marah dan dapat mengambil hikmah dari apa yg telah terjadi. Atau misalkan ada teman kita yg tiba2 gosipin kita, alangkah lebih dewasa apabila kita tidak terpancing emosi dan menunjukkan bahwa gosip itu tidak benar. Dan alangkah lebih bijak apabla kita tidak terpancing utk membalas gosip tersebut. Kadangkala kondisi tidak sesuai yg kita harapkan, kita sudah berusaha untuk baik namun kita tidak bisa mengendalikan apa yg orang lain bicarakan atau pikirkan, yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Kita yang menentukan apakah kita mau menjadi orang yang baik atau tidak. Kecerdasan emosi bisa kita latih dari kejadian sehari2 yang kita alami. Kehidupan ini adalah laboratorium untuk kita belajar apa makna kehidupan yang kita jalani dan bagaimana kualitas hidup kita adalah tergantung dari diri kita sendiri.
Selamat belajar di laboratorium kehidupan kita^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar